Selasa, 20 Januari 2009

AZITHROMYCIN


MEDIKAMENTOSA - Edisi April 2006 (Vol.5 No.9), oleh daniel

--------------------------------------------------------------------------------

Penanganan communit+y-acquired pneumonia (CAP) masih menjadi tantangan utama bagi internis speliasis paru. Hampir sebagian besar pasien CAP (80%) menjalani rawat jalan. Hal ini sangat berpotensi menyebabkan terjadi resistensi. Meski telah banyak obat baru yang ditemukan untuk menggantikan obat lama seperti penisilin yang telah resisten, namun masalah resistensi tetap saja ibarat PR tak terselesaikan .

Dimahfumi, pengobatan dengan antibiotika memang tak lepas dari bahaya resistensi. Oleh karena itu, terapi antibiotika harus diberikan secara rasional dengan banyak pertimbangan. Selain mempertimbangkan penyakit dan pasien, terapi dengan antibiotika juga harus mempertimbangkan kuman penyebab penyakit. Berikut banyak pertimbangan, baik dari segi penyakit, pasien, dan bahkan kuman penyebab penyakit pada pemilihan antibiotika untuk terapi CAP yang direkomendasi oleh beberapa guideline baik di Amerika maupun di Eropa.

1. Ciprofloksasin

Farmakologi
Ciprofloksasin adalah antibiotika golongan kuinolon. Pada pemberian oral, ciprofloksasin diserap dengan cepat dan baik oleh saluran cerna. Bioavailabilitas mutlak obat ini mencapai 70% tanpa kehilangan berarti pada efek metabolisme lintas pertama di hati. Kadar maksimum dicapai setelah 1-2 jam pemberian oral. Waktu paruh eliminasi serum pada subjek dengan fungsi ginjal normal adalah sekitar 4 jam. Ikatan ciprofloksasin dengan protein serum cukup rendah, sekitar 20-40 %, sehingga tidak cukup untuk menyebabkan interaksi yang kuat dengan obat lain.

Mikrobiologi
Secara in vitro ciprofloxacin ampuh melawan sejumlah besar mikroorganisme gram positif dan negatif. Berikut mikroorganisme yang telah terbukti peka terhadap ciprofloksasin secara in vitro dan klinis.

Mikroorganisme gram positif aerob : Enterococcus faecalis, Staphylococcus aureus dan Staphylococcus epidermidis(hanya galur yang rentan dengan methicilin), Staphylococcus saprophyticus, Streptococcus pneumoniae (hanya yang sensitif terhadap galur penisilin), dan Streptococcus pyogenes.

Mikroorganisme gram negatif aerob : Campylobacter jejuni, Citrobacter diversus, Citrobacter freundii, Enterobacter cloacae, Escherichia coli, Haemophilus influenzae, Haemophilus parainfluenzae, Klebsiella pneumoniae, Moraxella catarrhalis, Morganella morganii, Neisseria gonorrhoeae, Proteus mirabilis,Proteus vulgaris Providencia stuartii, Pseudomonas aeruginosa, Salmonella typhi, Serratia marcescens, Shigella boydii, Shigella dysenteriae, Shigella flexneri, dan Shigella sonnei.

Efek bakterisidal ciprofloksasin berasal dari inhibisi enzim topoisomerase II (DNA gyrase) dan topoisomerase IV, yang dibutuhkan untuk replikasi, transkripsi, perbaikan, dan rekombinasi DNA. Mekanisme kerjanya yang berbeda dengan penisilin, sefalosporin, aminoglikosida, makrolida, dan tetrasiklin ini, membuat ciprofloksasin bisa menjadi pilihan bagi mikroorganisme yang telah resisten dengan kelas antibiotika tersebut.

Indikasi
Infeksi saluran napas, infeksi saluran kemih, infeksi tulang dan sendi, infeksi kulit dan jaringan lunak, infeksi gastrointestinal, gonorrhoea akut, dan osteomielitis akut.

Dosis & Cara Pemberian
Infeksi saluran napas bawah : ringan/sedang 500 mg 2 kali sehari. Pada infeksi parah, dosis ditingkatkan jadi 750 mg 2 kali sehari.

Kontraindikasi
Hipersensitif terhadap ciprofloksasin dan anggota kelas kuinolon lainnya.

Interaksi
Pemberian bersama makanan akan menunda absorpsi ciprofloksasin. Antasid yang mengandung aluminium hidroksida dan magnesium hidroksida mengurangi bioavailabilitas ciproploksasin paling banyak 90 %. Ciprofloksasin bisa mengurangi klirens teofilin dan kafein jika diberikan berbarengan. Hal ini bisa meningkatkan kadar plasma kedua obat tersebut.

Efek Samping
Biasanya bisa timbul nausea, abdominal discomfort, dispepsia, flatulens, diare, stomatitis, kolitis pseudomembran, sakit kepala, pusing, malaise, drownsiness, kelelahan, agitasi, insomnia. Jarang terjadi efek seperti depresi, halusinasi, gangguan penglihatan, psikosis dan konvulsi, serta ruam pada kulit.

Nama dagang
Bactiprox, Bernoflox, Bidiprox, cetafloxo, Ciprofloxacin Hexapharm, Ciprofloxacin OGB Dexa, Ciproxin/Ciproxin SR, Coroflox, Corsacin, Cylowam, Disfabac, Duflomex, Floxbio, Floxifar, Girabloc, Interflox, Isotic Renator, Kifarox, Lapiflox, Licoprox, Mecoquin, Meflosin, Mensipox, Pilaflox, Phaproxin, Poncoflox, Proxitor, Qilaflox, Quidex, Quinobiotic, Renator, Scanax, Tequinol, Vidintal, Viflox, Vioquin, Wiaflox, Ximex Cylowam, dan Zumaflox.


2. Piperasilin/tazobaktam

Farmakologi
Piperasilin merupakan generasi teranyar penisilin yang tergolong dalam kelas ureidopenisilin. Agar efikasinya tak terusik oleh enzim betalaktamase, maka piperasilin dikombinasi dengan tazobaktam, suatu inhibitor beta laktamase. Konsentrasi puncak plasma kedua obat tersebut dicapai segera setelah pemberian infusi intravena. Piperasilin dimetabolisme menjadi metabolit disetil piperasilin yang sedikit aktif secara mikrobiologi. Sementara tazobaktam dimetabolisme menjadi metabolit tunggal yang tak berefek. Keduanya dieliminasi melalui ginjal oleh filtrasi glomerular dan sekresi tubular. Piperasilin dan tazobaktam terikat dengan protein plasma sekitar 30%. Kedua obat ini didistribusikan secara luas kedalam jaringan dan cairan tubuh, meliputi mukosa intestinal, gallbladder, paru, jaringan reproduksi wanita, cairan interstisial, dan empedu. Seperti penisilin lain, distribusi keduanya ke cairan serebrospinal rendah pada subjek tanpa peradangan selaput otak.

Mikrobiologi
Piperasilin bersifat bakterisidal dengan menghambat pembentukan septum dan sintesis dinding sel bakteri. Secara in vitro, piperasilin efektif melawan sejumlah besar bakteri aerob gram positif dan negatif serta anaerob. Kombinasi piperasilin dan tazobaktam telah terbukti efektif melawan galur ini baik secara in vitro maupun pada infeksi klinis.

Mikroorganisme aerob dan fakultatif gram positif: Staphylococcus aureus (tak termasuk isolat yang resisten terhadap metisilin dan oksasilin).

Mikroorganisme aerob dan fakultatif gram negatif: Acinetobacter baumanii, Escherichia coli, Haemophilus influenzae (tak termasuk ß -lactamase negative, isolate resisten ampisilin), Klebsiella pneumoniae, dan Pseudomonas aeruginosa (diberi kombinasi dengan suatu aminoglikosida).

Anaerob gram positif : Bacteroides fragilis group (B. fragilis, B. ovatus, B. thetaiotaomicron, and B. vulgatus)

Indikasi
Infeksi saluran napas bawah, saluran kemih, intraabdominal, kulit, bakterial septicemia, dan infeksi polimikrobial.

Dosis & Cara Pemberian
Dewasa & anak > 12 tahun : 2,25-4,5 gr tiap 8 jam. Insufisiensi ginjal : klirens kreatinin 20-80 mL/mnt (4,5 gr tiap 8 jam) dan klirens kreatinin <>
3. Azitromisin

Farmakologi
Azitromisin adalah antibiotik golongan makrolida pertama yang termasuk dalam kelas azalide. Azitromisin diturunkan dari eritromisin dengan menambahkan suatu atom nitrogen ke cincin lakton eritromisin A. Pemberian azitromisin secara oral diserap secara cepat dan segera didistribusi ke seluruh tubuh. Distribusi azitromisin yang cepat ke dalam jaringan dan konsentrasi yang tinggi dalam sel mengakibatkan kadar azitromisin dalam jaringan lebih tinggi dari plasma atau serum. Sebuah studi memperlihatkan bahwa makanan meningkatkan kadar maksimum (Cmax ) hingga 23% tapi tidak ada perubahan pada nilai AUC.

Mikrobiologi
Azitromisin beraksi menghambat sintesis protein mikroorganisme dengan mengikat ribosom subunit 50S. Azitromisin tidak mengusik pembentukan asam nukleat. Azitromisin aktif terhadap mikroorganisme berikut berdasarkan in vitro dan infeksi klinis.

Bakteri aerob gram positif : Staphylococcus aureus, Streptococcus agalactiae, Streptococcus pneumoniae, dan Streptococcus pyogenes.

Bakteri aerob gram negatif : Haemophilus ducreyi, Haemophilus influenzae, Moraxella catarrhalis, dan Neisseria gonorrhoeae.

Mikroorganisme lainnya : Chlamydia pneumoniae, Chlamydia trachomatis, dan Mycoplasma pneumoniae.

Azitromisin memperlihatkan resistensi silang dengan galur gram positif resisten eritromisin. Sebagian besar galur Enterococcus faecalis dan methicillin-resistant staphylococci resisten terhadap azitromisin.

Indikasi
Infeksi saluran napas bawah dan atas, kulit, dan penyakit hubungan seksual.

Dosis & Cara Pemberian
Dewasa dan lansia : 500 mg per hari selama 3 hari

Anak > 6 bulan : dosis tunggal 10 mg/kg selama 3 hari.

Efek samping
Mual, rasa tidak nyaman di perut, muntah, kembung, diare, gangguan pendengaran, nefritis interstisial, gangguan ginjal akut, fungsi hati abnormal, pusing/vertigo, kejang, sakit kepala, dan somnolen.

Interaksi
Antasid yang mengandung aluminium dan magnesium mengurangi kadar puncak plasma (rate of absorption) azitromisin, namun nilai AUC (extent of absorption) tak berubah. Azitromisin mengurangi klirens triazolam sehingga meningkatkan efek farmakologinya.

Kontraindikasi
Hipersensitif terhadap azitromisin atau makrolida lainnya.

Nama dagang
Aztrin, Mezatrin, Zibramax, Zifin, Zithromax, dan Zycin


(Arnita)

4 komentar:

Anonim mengatakan...

Azithromycine, efeknya sungguh dahsyat, sangat cocok untuk infesi paru bawah.

siapapun anda, pernahkah anda ditherapy dengan azithromycine, jika sudah maka silahkan anda buat komentar hasil therapynya.

siapapun anda mungkin ada baiknya mempelajari kasus saya yang ditherapy dengan azithromycine saat mengalami batuk ringan.

Data kondisi fisik saat batuk:
Laki-laki, umur 49 tahun, tinggi badan 170 cm, bobot badan: 65 Kg, tekanan darah: 120/80. Gula darah normal.

Tidak pernah sakit pinggang, dan otot kaki masih kuat, dapat digerakkan pada posisi manapun tanpa terasa nyeri diotot kaki maupun pinggang. Masih tahan duduk, menyetir mobil dan jongkok cukup lama.

Hobby: mempelajari ilmu kesehatan, anatomi tubuh manusia dan efek farmakology obat.

Gejala Sakit: Terasa mau batuk yang ringan yang dapat ditahan dan sepanjang hari bisa ditahan tidak batuk. Jika dibatukkan tidak berdahak, hanya putih bersih dari ludah. Sekuat apapun dibatukkan tidak akan keluar dahak.

Lamanya gejala sakit batuk: 2 minggu setelah mandi agak larut malam.

Dokter Spesialis Paru memberikan resep beberapa macam obat yang terbukti dapat menyembuhkan batuk saya dengan cepat.

Resep yang diberikan:

1. Tab. SIMLEV No X (Levofloxacin 500 mg)
S 1 dd tab 1 (malam)
2. Tab. ZAROM NO X (Azithromycine: 250 mg)
S 1 dd Tab 1 (malam)
3. Tab. CETIRIZINE No X
S 1 dd Tab 1 (malam)
4. Syr Fartolin fl I
Dexametasone No. X
Codein mg 60.
S 2 dd cth I (pagi/malam)

Anjuran Dokter: obat diminum dalam waktu berbeda, jangan sekalian dalam waktu sama.

Note:
1.Obat hanya saya minum selama 3 malam dan seterusnya dihentikan.
2. Obat batuk syrup No 4 tidak diminum karena hanya akan menghilangkan gejala batuk tanpa efek penyembuhan sumber penyebab batuk.


Kondisi tubuh saat pengobatan:
Malam pertama saat obat dikomsumsi, enak tidur, batuk hilang, aman terasa badan.
Bangun pagi setelah komsumsi obat malam pertama, terasa sedikit sakit dikelenjar limpha kaki kiri dan dibawah rahang kiri.

Malam kedua mulai terasa sidikit ngilu dipinggang kiri, setelah minum obat malam dapat tidur nyenyak dan tidak batuk.

Malam ketiga sakit pinggang mulai terasa lebih nyata, otot kaki dan badan terasa agak lemah. Pagi hari menyetir mobil sudah mulai terganggu karena nyeri pinggang dan otot kaki.

Malam keempat, obat dihentikan, terasa susah tidur, sering bolak balikkan badan, terasa seperti kolik ginjal, pinggang kiri dan kanan terasa sakit.

Batuk sudah hilang, hanya terasa pinggang masih sakit dan kaki kiri jika dipakai menopang tubuh pada posisi tertentu, misalnya mau miringkan badan masih terasa ngilu. Berjalan kaki terasa lemah.

Gejala sakit pinggang dan lemah otot kaki mulai membaik dari hari kehari. Hari ini Tgl 2 Januari 2012 adalah hari ke 12 setelah pengobatan.

Fungsi ginjal tidak diperiksa selama sakit pinggang, dan sampai saat ini fungsi ginjal dan fungsi hati juga belum diperiksa.

Jika saudara BACA literatur efek samping dari Azithromycin dan LEVO FLOXACIN, kedua obat ini berpotensi menyebabkan gagal ginjal akut/spontan.
Levo Floxacin juga perpotensi menyebabkan TENDON RUPTURE.

Jika Saudara adalah Ahli Farmakology, menurut Saudara, Apa yang akan terjadi pada saya jika pada malam ke 4 obat tidak dihentikan? Apakah kemungkinan saya akan mengalami kerusakan permanen pada otot atau organ lain seperti ginjal dan hati.

Sampai hari ini masih terasa telapak kaki sebelah kiri dekat
kelingking jari kaki kiri masih terasa sedikit sakit jika dipijakkan. Gejala ini mulai terasa pada hari keempat pengobatan.

Pendapat saya jika ada 2 jenis obat yang mempunyai efek samping yang sama misalnya sama-sama punya efek merusak ginjal, hendaknya tidak dikombinasi.

Thanks MR BAGS. Semoga bermanfaat bagi orang banyak.

Anonim mengatakan...

Azithromycine, efeknya sungguh dahsyat, sangat cocok untuk infesi paru bawah.

siapapun anda, pernahkah anda ditherapy dengan azithromycine, jika sudah maka silahkan anda buat komentar hasil therapynya.

siapapun anda mungkin ada baiknya mempelajari kasus saya yang ditherapy dengan azithromycine saat mengalami batuk ringan.

Data kondisi fisik saat batuk:
Laki-laki, umur 49 tahun, tinggi badan 170 cm, bobot badan: 65 Kg, tekanan darah: 120/80. Gula darah normal.

Tidak pernah sakit pinggang, dan otot kaki masih kuat, dapat digerakkan pada posisi manapun tanpa terasa nyeri diotot kaki maupun pinggang. Masih tahan duduk, menyetir mobil dan jongkok cukup lama.

Hobby: mempelajari ilmu kesehatan, anatomi tubuh manusia dan efek farmakology obat.

Gejala Sakit: Terasa mau batuk yang ringan yang dapat ditahan dan sepanjang hari bisa ditahan tidak batuk. Jika dibatukkan tidak berdahak, hanya putih bersih dari ludah. Sekuat apapun dibatukkan tidak akan keluar dahak.

Lamanya gejala sakit batuk: 2 minggu setelah mandi agak larut malam.

Dokter Spesialis Paru memberikan resep beberapa macam obat yang terbukti dapat menyembuhkan batuk saya dengan cepat.

Resep yang diberikan:

1. Tab. SIMLEV No X (Levofloxacin 500 mg)
S 1 dd tab 1 (malam)
2. Tab. ZAROM NO X (Azithromycine: 250 mg)
S 1 dd Tab 1 (malam)
3. Tab. CETIRIZINE No X
S 1 dd Tab 1 (malam)
4. Syr Fartolin fl I
Dexametasone No. X
Codein mg 60.
S 2 dd cth I (pagi/malam)

Anjuran Dokter: obat diminum dalam waktu berbeda, jangan sekalian dalam waktu sama.

Note:
1.Obat hanya saya minum selama 3 malam dan seterusnya dihentikan.
2. Obat batuk syrup No 4 tidak diminum karena hanya akan menghilangkan gejala batuk tanpa efek penyembuhan sumber penyebab batuk.


Kondisi tubuh saat pengobatan:
Malam pertama saat obat dikomsumsi, enak tidur, batuk hilang, aman terasa badan.
Bangun pagi setelah komsumsi obat malam pertama, terasa sedikit sakit dikelenjar limpha kaki kiri dan dibawah rahang kiri.

Malam kedua mulai terasa sidikit ngilu dipinggang kiri, setelah minum obat malam dapat tidur nyenyak dan tidak batuk.

Malam ketiga sakit pinggang mulai terasa lebih nyata, otot kaki dan badan terasa agak lemah. Pagi hari menyetir mobil sudah mulai terganggu karena nyeri pinggang dan otot kaki.

Malam keempat, obat dihentikan, terasa susah tidur, sering bolak balikkan badan, terasa seperti kolik ginjal, pinggang kiri dan kanan terasa sakit.

Batuk sudah hilang, hanya terasa pinggang masih sakit dan kaki kiri jika dipakai menopang tubuh pada posisi tertentu, misalnya mau miringkan badan masih terasa ngilu. Berjalan kaki terasa lemah.

Gejala sakit pinggang dan lemah otot kaki mulai membaik dari hari kehari. Hari ini Tgl 2 Januari 2012 adalah hari ke 12 setelah pengobatan.

Fungsi ginjal tidak diperiksa selama sakit pinggang, dan sampai saat ini fungsi ginjal dan fungsi hati juga belum diperiksa.

Jika saudara BACA literatur efek samping dari Azithromycin dan LEVO FLOXACIN, kedua obat ini berpotensi menyebabkan gagal ginjal akut/spontan.
Levo Floxacin juga perpotensi menyebabkan TENDON RUPTURE.

Jika Saudara adalah Ahli Farmakology, menurut Saudara, Apa yang akan terjadi pada saya jika pada malam ke 4 obat tidak dihentikan? Apakah kemungkinan saya akan mengalami kerusakan permanen pada otot atau organ lain seperti ginjal dan hati.

Sampai hari ini masih terasa telapak kaki sebelah kiri dekat
kelingking jari kaki kiri masih terasa sedikit sakit jika dipijakkan. Gejala ini mulai terasa pada hari keempat pengobatan.

Pendapat saya jika ada 2 jenis obat yang mempunyai efek samping yang sama misalnya sama-sama punya efek merusak ginjal, hendaknya tidak dikombinasi.

Thanks MR BAGS. Semoga bermanfaat bagi orang banyak.

Anonim mengatakan...

bagus

Budiman Mu mengatakan...

Baru aja saya dapat resep Azithromycin bersama obat lainnya dari dr. di Johor dikarenakan ada infeksi dalam saluran pernapasan dan kekurangan mineral potassium chloride nanti saya info apakah ada efek samping atau tidak Mr. Bags. thanks buat info nya sangat membantu

salam
Budiman