Tampilkan postingan dengan label obat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label obat. Tampilkan semua postingan

Kamis, 31 Januari 2013

Hepatitis B Lebih Dekat dari yang Anda Bayangkan

Diperkirakan 2 miliar penduduk dunia pernah terinfeksi hepatitis. Indonesia merupakan negara yang berjuang agar masalah hepatitis menjadi perhatian dunia. Empat juta kasus akut pertahun, Satu juta kematian pertahun, Tiga ratus sampai empat ratus juta karier kronis, Urutan ke-7 penyebab kematian di dunia dan Seratus kali lebih infeksius dibandingkan dengan HIV Meski telah masuk agenda prioritas Badan Kesehatan Dunia (WHO) setelah menjadi resolusi WHA, biaya pencegahan maupun pengobatan hepatitis tidak berarti menjadi murah. Utamanya, untuk obat-obatan yang memiliki paten dari perusahaan-perusahaan farmasi internasional. Virus Hepatitis B virus ditransmisikan antara manusia yaitu kontak dengan darah atau cairan tubuh (contoh: semen dan cairan vagina) daripenderita Transmis iHepatitis B: perinatal(dari ibu ke bayi saat melahirkan), Penggunaan jarum suntik yang tidak steril, Transfusi darah, Hubungan seksual. Sebenarnya Hepatitis B dapat dicegah dengan vaksin untuk yang belum terinfeksi, sehingga dianjurkan Vaksin untuk bayi yang baru lahir. PT Kimia Farma Tbk (KAEF) berhasil membuat obat untuk penderita Hepatitis B dengan harga terjangkau. "Di Indonesia ada sekitar 20 juta orang yang harus minum obat ini, tapi karena harganya mahal jadi tidak terjangkau. Mengapa mahal? Tidak lain karena obat itu harus diimpor Tapi kini masyarakat bisa sedikit berlega hati, karena PT Kimia Farma berhasil memproduksi sendiri obat lamivudine dengan menggunakan merk HEPLAV, dan harganya hanya Rp 150.000 untuk kepentingan 1 bulan. Harga ini tidak sampai seperlima dari harga obat lamivudine impor yang mencapai Rp.800 RIBU untuk terapi 1 bulan Tujuan terapi ini adalah Menekan replikasi HBV DNA selama mungkin sehingga mencegah sirosis , kanker hati dan kematian karena hepatitis B. Jaga kesehatan periksa kesehatan liver anda..... Informasi ketesediaan Produk bisa menghubungi Apotek-apotek Kimia Farma seluruh Indonesia
Beberapa Kegiatan Bersama Team

 Bengkulu, Mas Tribudi Rambo dan Mas Teguh

Senin, 24 Januari 2011

KOLESTEROL


Kolesterol

Kolesterol adalah suatu molekul lemak di dalam sel dibagi menjadi LDL, HDL, total kolesterol dan trigliserida. Kolesterol sebenarnya merupakan salah satu komponen lemak. Seperti kita ketahui, lemak merupakan salah satu zat gizi yang sangat diperlukan oleh tubuh kita disamping zat gizi lain seperti karbohidrat, protein, vitamin dan mineral. Lemak merupakan salah satu sumber energi yang memberikan kalori paling tinggi. Disamping sebagai salah satu sumber energi, sebenarnya lemak atau khususnya kolesterol memang merupakan zat yang sangat dibutuhkan oleh tubuh kita terutama untuk membentuk dinding sel-sel dalam tubuh. Kolesterol juga merupakan bahan dasar pembentukan hormon-hormon steroid. Kolesterol yang kita butuhkan tersebut, secara normal diproduksi sendiri oleh tubuh dalam jumlah yang tepat. Tetapi ia bisa meningkat jumlahnya karena asupan makanan yang berasal dari lemak hewani, telur dan yang disebut sebagai makanan sampah (junkfood). Kolesterol dalam tubuh yang berlebihan akan tertimbun di dalam dinding pembuluh darah dan menimbulkan suatu kondisi yang disebut aterosklerosis yaitu penyempitan atau pengerasan pembuluh darah. Kondisi ini merupakan cikal bakal terjadinya penyakit jantung dan stroke.
Dari hati, kolesterol diangkut oleh lipoprotein yang bernama LDL (Low Density Lipoprotein) untuk dibawa ke sel-sel tubuh yang memerlukan, termasuk ke sel otot jantung, otak dan lain-lain agar dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Kelebihan kolesterol akan diangkut kembali oleh lipoprotein yang disebut HDL (High Density Lipoprotein) untuk dibawa kembali ke hati yang selanjutnya akan diuraikan lalu dibuang ke dalam kandung empedu sebagai asam (cairan) empedu. LDL mengandung lebih banyak lemak daripada HDL sehingga ia akan mengambang di dalam darah. Protein utama yang membentuk LDL adalah Apo-B (apolipoprotein-B). LDL dianggap sebagai lemak yang "jahat" karena dapat menyebabkan penempelan kolesterol di dinding pembuluh darah. Sebaliknya, HDL disebut sebagai lemak yang "baik" karena dalam operasinya ia membersihkan kelebihan kolesterol dari dinding pembuluh darah dengan mengangkutnya kembali ke hati. Protein utama yang membentuk HDL adalah Apo-A (apolipoprotein). HDL ini mempunyai kandungan lemak lebih sedikit dan mempunyai kepadatan tinggi sehingga lebih berat.
Penyebab kolesterol
konsumsi makanan yang tinggi lemak dan sumber kolesterol (seperti makanan berminyak, bersantan, makanan fast food) , alkohol dan gula yang berlebihan.
Penanganan hiperkolesterol
• Makanlah makanan tinggi serat, gunakan minyak mufa (mono-unsaturated fatty acid) dan pufa (poly-unsaturated fatty acid), suplementasi minyak ikan, vitamin antioksidan dan pertahankan berat badan ideal.
• Apabila pengatura gaya hidup tidak mampu menurunkan kadar kolesterol dalam darah, maka pasien harus mengkonsumsi obat. Obat yang dapat digunakan yaitu :


a. Golongan asam fibrat à Gemfibrozil, Fenofibrate dan Ciprofibrate.
Fibrate menurunkan produksi LDl dan meningkatkan kadar HDL. LDL ditumpuk di arteri sehingga meningkatkan resiko penyakit jantung, sedangkan HDL memproteksi arteri atas penumpukkan itu.
b. Golongan resin à Kolestiramin (Chlolestyramine)
Obat antihiperlidemik ini bekerja dengan cara mengikat asam empedu di usus dan meningkatkan pembuangan LDL dari aliran darah.
c. Golongan Penghambat HMGCoa reduktase à Pravastatin, Simvastatin, Rosavastatin, Fluvastatin, Atorvastatin.
Menghambat pembentukan kolesterol dengan cara menghambat kerja enzim yang ada di jaringan hati yang memproduksi mevalonate, suatu molekul kecil yang digunakan untuk mensintesa kolesterol dan derivat mevalonate. Selain itu meningkatkan pembuangan LDL dari aliran darah.
d. Golongan Asam nikotinat à niasin
Dengan dosis besar asam nikotinat diindikasikan untuk meningkatkan HDL atau kolesterol baik dalam darah
e. Golongan Ezetimibe
Menurunkan total kolesterol dan LDL juga meningkatkan HDL dengan cara mengurangi penyerapan kolesterol di usus.
Sumber : farmasiku.com

Senin, 04 Oktober 2010

HIPERTENSI


HIPERTENSI


Hipertensi adalah penyakit yang terjadi akibat peningkatan tekanan darah. Hipertensi ada 2 jenis yaitu hipertensi primer atau esensial yang penyebabnya tidak diketahui dan hipertensi sekunder yang dapat disebabkan oleh penyakit ginjal, penyakit endokrin,
penyakit jantung, gangguan anak ginjal, dll.

KLASIFIKASI HIPERTENSI

TEKANAN DARAH NORMAL :
Tekanan Sistolik < 120 mmHg dan Tekanan Diastolik < 80 mmHg

PRE-HIPERTENSI :
Tekanan Sistolik 120-139 mmHg dan/atau Tekanan Diastolik 80-90 mmHg

HIPERTENSI
Stadium I : Tekanan Sistolik 140 – 159 mmHg dan/atau Tekanan
Diastolik 90 – 99 mmH
Stadium II : Tekanan Sistolik > 160 mmHg dan/atau Tekanan
Diastolik > 100 mmHg

Jadi secara umum penderita dikatakan Hipertensi bila Tekanan darah > 140/90 mmHg. Untuk diagnosis Hipertensi, tekanan darah ditentukan berdasarkan rata-rata dari 2 kali pemeriksaan atau lebih pada waktu yang berbeda dan pengukuran dilakukan pada posisi duduk.


:: BAHAYA HIPERTENSI

Tekanan darah yang terus-menerus tinggi dapat menimbulkan komplikasi pada organ tubuh penderita.
Organ yang paling sering menjadi target kerusakan akibat Hipertensi antara lain :

* Otak : menyebabkan stroke
* Mata : menyebabkan retinopati hipertensi dan dapat menimbulkan kebutaan
* Jantung : menyebabkan Penyakit Jantung Koroner (termasuk Infark jantung), Gagal Jantung
* Ginjal : menyebabkan Penyakit Ginjal Kronik, Gagal Ginjal Terminal

Untuk mengetahui terjadinya komplikasi tersebut diperlukan pemeriksaan laboratorium disamping pemeriksaan penunjang dan pemeriksaan fisik oleh dokter.



HIDUP SEHAT DENGAN HIPERTENSI
Bila Anda mengidap Hipertensi, jangan panik tetapi jangan pula mengabaikannya. Segera berkonsultasilah dengan dokter dan ikuti petunjuk dokter.

Keberhasilan penanganan Hipertensi tidak hanya tergantung pada obat yang diberikan oleh dokter, tetapi diperlukan kerjasama dan upaya (Merubah Pola Hidup) yang gigih dari penderita yaitu :

* Menurunkan berat badan
* Mengatur diet atau pola makan seperti rendah garam, rendah kolesterol dan lemak jenuh, meningkatkan konsumsi buah dan sayuran, tidak mengkonsumsi alkohol
* Berhenti merokok
* Meningkatkan aktivitas fisik dengan olah raga teratur
* Mengkonsumsi obat sesuai dengan petunjuk dokter
* Melakukan pemeriksaan laboratorium dengan Panel Evaluasi Awal Hipertensi atau Panel Hidup Sehat dengan Hipertensi

Minggu, 16 Mei 2010

FLUCONAZOLE KF

SUDAH SEHARUSNYA MIYABI TAHU TENTANG FLUCONAZOLE


Fluconazole Kapsul 150mg yang merupakan Generik Pertama di Indonesia,
1. Nama Produk : Fluconazole150mg
2. Kategori Produk : OGB
3. Kemasan : Dus 1 Strip x 10 Kapsul
4. No. Registrasi : GKL0612423301B1
5. HNA : Rp. 200.000,- (excl PPN)

TERSEDIA DI SEMUA APOTEK KIMIA FARMA

Antijamur

Obat antijamur terdiri dari beberapa kelompok yaitu : kelompok polyene (amfoterisin B, nistatin, natamisin), kelompok azol (ketokonazol, ekonazol, klotrimazol, mikonazol, flukonazol, itrakonazol), allilamin (terbinafin), griseofulvin, dan flusitosin.

Farmakologi : Flukonazol merupakan inhibitor cytochrome P-450 sterol C-14 alpha-demethylation (biosintesis ergosterol) jamur yang sangat selektif. Pengurangan ergosterol, yang merupakan sterol utama yang terdapat di dalam membran sel-sel jamur, dan akumulasi sterol-sterol yang mengalami metilase menyebabkan terjadinya perubahan sejumlah fungsi sel yang berhubungan dengan membran. Secara in vitro flukonazol memperlihatkan aktivitas fungistatik terhadap Cryptococcus neoformans dan Candida spp.



Spektrum : Spektrum aktivitas antijamurnya sama dengan ketokonazol. Fluconazole memiliki spectrum yang luas meliputi Blastomyces dermatidis, Cocciodioides immitis, Cryptococcus neoformus, Histoplasma capsulatum dan Paracoccidioides brasiliensis. Obat ini aktif terhadap Candida albicans, C. tropicalis, dan C. parapsilosis, namun tidak peka terhadap C. krusei dan Torulopsis glabrata (sekarang diklasifikasikan ke dalam spesis Candida glabrata). Fluconazole aktif di dalam dermatophytosis namun tidak efektif di dalam aspergillosis dan mucormycosis. Pada pasien penderita neutropenik, manifestasi resistensi fluconazole yang paling umum adalah pada seleksi spesis Candida yang tidak biasa dijumpai, seperti C. krusei, yang memiliki resistensi intrinsik terhadap obat ini.



Farmakokinetik : Flukonazol larut air dan cepat diabsorpsi sesudah pemberian oral, dengan 90% bioavailabilitas, 12% terikat pada protein. Obat ini mencapai konsentrasi tinggi dalam LCS, paru dan humor aquosus, dan menjadi obat pilihan pertama untuk meningitis karena jamur. Konsentrasi fungisidanya juga meningkat dalam vagina, saliva, kulit dan kuku.

– Pengobatan secara oral dengan fluconazole mengakibatkan terjadinya absorpsi obat secara cepat dan hampir sempurna. Konsentrasi serum identik diperoleh setelah pengobatan secara oral dan secara parenteral yang menunjukkan bahwa metabolisme tahap awal (first-pass metabolism) obat tidak terjadi. Konsentrasi darah naik sesuai dengan dosis dengan tingkat dosis yang bermacam-macam. Dua jam setelah pemberian obat secara oral dengan dosis 50 mg, konsentrasi serum dengan kisaran 1,0 mg/l dapat diantisipasi, namun hal ini terjadi hanya setelah dosis ditambah secara berulang-ulang hingga mencapai 2,0 sampai dengan 3,0 mg/l.

– Pengobatan fluconazole secara oral atau secara parenteral menyebabkan percepatan dan penyebaran distribusi obat. Tidak seperti obat antifungal azol jenis lainnya, protein yang mengikat fluconazole memiliki kadar yang rendah (sekitar 12%). Hal ini menyebabkan tingginya tingkat sirkulasi obat yang tidak terikat. Tingkat sirkulasi obat yang tidak terikat pada sebagian besar kelencar dan cairan tubuh biasanya melampaui 50% dari konsentrasi darah simultan.

– Tidak seperti obat anti jamur azole jenis lain, fluconazole tidak dapat dimetabolisme secara ekstensif oleh manusia. Lebih dari 90% dari dosis yang diberikan tereliminasi ke dalam urin: sekitar 80% dalam bentuk obat-obatan asli (tidak berubah komposisinya) dan 10% dalam bentuk metabolit. Tidak ada indikasi induksi atau inhibit yang signifikan pada metabolisme fluconazole yang diberikan secara berulang-ulang.

– Sarana eliminasi utama dalam hal ini adalah ekskresi renal obat-obatan yang tidak dapat dirubah komposisinya. Pada pasien yang memiliki fungsi renal normal, terdapat sekitar 80% dari jumlah dosis yang diberikan tercampur dengan urin dengan bentuk yang tidak berubah dan konsentrasi > 100 mg/l. obat jenis ini dibersihkan melalui filtrasi glomerular, namun secara bersamaan terjadi reabsorpsi tubular. Fluconazole memiliki paruh hidup serum selama 20-30 jam, tetapi dapat diperpanjang waktunya jika terjadi gangguan pada fungsi renal, dengan pemberian dosis terhadap pasien yang memiliki tingkat filtrasi di bawah 50 ml/menit. Fluconazole akan hilang selama haemodialysis dan pada sejumlah kasus terjadi selama dialysis peritoneal. Sessi haemodialysis selama 3 jam dapat mengurangi konsentrasi darah hingga sekitar 50%.



Indikasi : infeksi sistemik, kandidiasis mukokutan, vaginal candidiasis.



Kegunaan Terapi : Fluconazole dapat digunakan untuk mengobati candidosis mukosa dan candidosis cutaneous. Selain itu, obat ini juga efektif untuk perawatan berbagai jenis gangguan dermatophytosis dan pityriasis versicolor.

Fluconazole adalah jenis ramuan obat yang menjanjikan bagi perawatan penyakit candidosis stadium lanjut/berat pada pasien yang tidak menderita neutropenia, namun sebaiknya tidak digunakan sebagai pilihan utama pada pasien neutropenia kecuali jika terdapat alasan-alasan tertentu. Fluconazole telah terbukti bermanfaat untuk perawatan prophylaktat terhadap penyakit candidosis yang diderita oleh pasien pengidap neutropenik. Fluconazole tidak tidak efektif untuk mengobati aspergillosis dan mucormycosis.

Fluconazole merupakan jenis obat-obatan yang ampuh untuk mengatasi meningitis cryptococcal, tetapi tidak boleh dijadikan prioritas utama untuk pasien pengidap AIDS kecuali jika terdapat alasan-alasan tertentu. Fluconazole terbukti lebih efektif dan lebih dapat ditoleransi dibandingkan amphotericin B untuk mengobati atau mencegah terjadinya cryptococcosis pada pasien penderita AIDS.

Fluconazole saat ini menjadi jenis obat yang menjadi pilihan banyak dokter untuk mengobati pasien penderita meningitis coccidioidal. Syaratnya, pasien tersebut harus tetap mengkonsumsi fluconazole selama hidupnya agar mencegah munculnya kembali penyakit yang sama.



Dosis & Cara Pemberian : Flukonazol tersedia dalam bentuk kapsul 50 dan 150 mg dan infus 2 mg/ml. Dosis tunggal 150 mg. Modifikasi dosis perlu dilakukan pada pasien dengan gangguan ginjal..

Fluconazole merangsang terjadinya absorpsi secara sempurna pada saat dilakukan pengobatan secara oral, sehingga jenis pengobatan oral menjadi prioritas utama. Flukonazol dapat dipakai dengan atau tanpa makanan Jika pemberian obat pada pasien tidak memungkinkan untuk diberikan lewat mulut, maka fluconazole diberikan dalam bentuk larutan intravena, atau melalui infus dengan kadar infus 5-10 ml/menit.

– Vaginal candidosis dapat diobati dengan fluconazole oral dengan dosis 150 mg. Sedangkan Oropharyngeal candidosis diobati dengan dosis 50-200 mg/hari selama 1-2 pekan. Candidosis jenis Oesophageal dan mucocutaneus serta candidosis saluran kencing bagian bawah memerlukan fluconazole dengan dosis 100-200 mg/hari yang diberikan selama 2-4 pekan.

– Dosis yang disarankan untuk pasien penderita cryptococcosis atau candidosis stadium lanjut adalah 400 mg/hari. Namun demikian, sejumlah praktisi klinik telah menggunakan dosis yang lebih tinggi lagi untuk mengatasi infeksi-infeksi yang membahayakan nyawa pasien. Lama waktu atau durasi perawatan akan berbeda sesuai dengan kondisi pasien itu sendiri, bergantung pada sifat dan jangkauan infeksi serta penyakit yang mendahuluinya. Diperlukan sekurang-kurangnya 6-8 pekan lamanya untuk mengobati pasien penderita cryptococcosis yang tidak mengidap AIDS. Dosis yang disarankan untuk anak-anak adalah 1-2 mg/kg untuk jenis candidosis superficial dan 5 mg/kg untuk cryptococcosis atau candidosis stadium lanjut.

– Pengobatan jangka panjang menggunakan fluconazole dengan tujuan menyembuhkan pasien cryptococcosis yang juga menderita AIDS harus dilakukan pada dosis 200 mg/hari. Untuk mencegah candidosis pada pasien penderita neutropenik, maka dosis yang diberikan adalah 100-400 mg/hari. Pasien-pasien yang memiliki resiko tinggi terhadap serangan infeksi stadium lanjut harus diobati dengan dosis 400 mg/hari dan hal ini harus dimulai beberapa hari menjelang munculnya gejala neotropenia dan berlangsung selama 1 pekan setelah jumlah neutrofil kembali pada kisaran 1 x 109/l.

– Pasien yang menderita gangguan renal harus diberi dosis normal selama 48 hari pertama pengobatan. Segera setelah itu, interval dosis harus dilipatgandakan sampai dengan 48 jam (dengan kata lain, dosis dikurangi setengahnya). Hal ini berlaku bagi pasien yang memiliki tingkat pembersihan kreatinin 21-40 ml/menit. Sedangkan pasien yang memiliki tingkat pembersihan kreatinin 10-20 ml/menit interval dosis adalah 72 jam.

– Pasien yang menderita haemodialysis secara reguler memerlukan dosis yang biasa yang diberikan setelah masing-masing tahap atau sesi dialysis.





Kehamilan dan menyusui : Penggunaan pada masa kehamilan dan menyusui tidak direkomendasikan.



Efek samping : Sakit kepala, nyeri abdominal, diare, dan pu­sing. Ruam pada kulit bisa terjadi tapi jarang. Flukonazol bisa menyebabkan kerusakan hati pada kasus jarang. Fungsi hati harus dimonitor setelah beberapa hari penggunaan obat.

Fluconazole adalah jenis obat yang dapat ditoleransi dengan baik. Efek samping yang paling umum terjadi adalah gastrointestinal seperti nausea (mual) dan nyeri pada bagian perut, namun jarang yang memerlukan diskontinuasi perawatan, khususnya pada pasien yang menerima dosis hingga 400 mg/hari. Elevasi asimptomatik transient tingkat transaminase serum relatif biasa terjadi pada pasien penderita AIDS, dan pengobatan harus dihentikan pada pasien penderita hepatitis simptomatik atau penderita gangguan fungsi hati.

Pasien penderita kanker atau AIDS memiliki kemungkinan untuk mengidap sindrom Stevens-Johnson (fatal exfoliative skin rashes), namun hubungan sebab akibat penyakit ini dengan fluconazole belumlah jelas, terutama jika penanganan dilakukan secara terus-menerus dengan obat-obatan jenis lain. Ada baiknya untuk menghentikan konsumsi fluconazole pada pasien penderita infeksi jamur superficial, di mana pasien tersebut mengalami pengelupasan kulit. Pasien penderita infeksi jamur stadium lanjut/berat yang juga mengalami pengelupasan kulit harus diawasi terus perkembangannya dan pemberian obat harus dihentikan jika terjadi luka yang serius atau erythrema multiforme.

Berbeda dengan ketoconazole, fluconazole tidak menghambat metabolisme adrenal maupun steroid testicular manusia. Syaratnya, obat ini dikonsumsi dengan dosis yang tepat.

SUMBER :http://yosefw.wordpress.com


oLEH :
Valentina Dewi Akhila C. (058114066)

Fitriana Annisa S.N. (068114095)

Senin, 14 Juli 2008

UJI BIOEKIVALENSI


UJI BIOEKIVALENSI

Oleh :
Drs Dediwan Komarawinata, Apt
Drs. Efrinaldi, Apt
PT Kimia Farma Persero Tbk

BIOAVAILABILITAS (KETERSEDIAAN HAYATI)

Presentasi dan kecepatan zat aktif dalam suatu produk obat yang mencapai/tersedia dalam sirkulasi sistemik dalam bentuk utuh/aktif setelah pemberian produk obat tersebut, diukur dari kadarnya dalam darah terhadap waktu atau dari ekskresinya dalam urin.
BIOEKIVALENSI
Dua produk disebut bioekivalen jika keduanya mempunyai ekivalensi
farmaseutik atau merupakan alternatif farmaseutik dan pada pemberian
dosis molar yang sama akan menghasilkan bioavailabilitas yang sebanding
sehingga efeknya akan sama, dalam hal efikasi maupun keamanan
EKIVALENSI TERAPEUTIK
Dua produk obat mempunyai ekivalensi terapeutik jika keduanya
mempunyai ekivalensi farmaseutik atau merupakan alternatif
farmasetik dan pada pemberian dengan dosis molar yang sama
akan menghasilkan efikasi klinik dan keamanan yang sebanding.
ALASAN PERLUNYA DILAKUKAN UJI BIOEKIVALENSI
Biaya kesehatan cenderung meningkat → diperlukan substitusi
copy generik yang harganya lebih murah
Untuk keamanan dan ketepatan substitusi, copy generik hendaknya
secara terapeutik ekivalen dengan produk inovator.
Terapeutik ekivalen diasumsikan bila copy generik bioekivalen
dengan produk inovator.
TUJUAN UJI BIOEKIVALENSI
Umum
Untuk menjamin efikasi, keamanan dan mutu produk obat yang beredar
Khusus
Untuk menjamin produk obat “copy” yang akan mendapat izin edar
bioekivalen dengan produk obat inovatornya
Pada penyakit ringan tidak terlihat, pada penyakit berat tidak etis;
Endpoint yang diukur seringkali kurang akurat sehingga variabilitasnya
besar sekali dengan akibat dibutuhkan sampel yang besar;
Sebagai uji klinik untuk menunjukkan ekivalensi dibutuhkan sampel
yang besar sekali
KENDALA UJI KLINIK
Pada penyakit ringan tidak terlihat, pada penyakit berat tidak etis;
Endpoint yang diukur seringkali kurang akurat sehingga variabilitasnya
besar sekali dengan akibat dibutuhkan sampel yang besar;
Sebagai uji klinik untuk menunjukkan ekivalensi dibutuhkan sampel
yang besar sekali
Pendekatan farmakokinetik → UJI BIOEKIVALENSI
Endpoint sangat akurat (kadar obat dalam plasma) →variabilitas rendah
→ sampel yang dibutuhkan jauh lebih kecil
Hal ini menguntungkan baik bagi produsen maupun subjek uji
MENGAPA UJI BE MENUNJUKKAN EKIVALENSI TERAPEUTIK
Konsentrasi obat dalam plasma darah menentukan jumlah molekul
obat pada reseptor → efek terapeutik
Konsentrasi obat dalam plasma ditentukan oleh ADME (Absorpsi,
Distribusi, Metabolisme dan Ekskresi) bentuk aktif obat
Distribusi, Metabolisme dan Ekskresi konstan pada subyek yang
sama → perbedaan konsentrasi dalam plasma (= efek terapeutik) :
Karena perbedaan jumlah obat yang diabsorpsi → tergantung pada
penghantaran obat dari formulasi
DESAIN DAN PELAKSANAAN UJI BIOEKIVALENSI
Kaji etik
Desain
Subyek
Produk obat uji
Pengambilan sampel darah
Pengambilan sampel urin
Metoda bioanalitik
Kriteria Bioekivalen
Analisa statistik

KAJI ETIK
Uji bioavailabilitas bioekivalensi dilakukan pada subyek manusia,

Desain dan pelaksanaan uji BE harus mengikuti pedoman Cara
Uji Klinik yang Baik (CUKB)
Protokol uji harus lolos kaji etik sebelum dilakukan uji
DESAIN
Dilakukan pada subyek yang sama (desain menyilang) untuk
menghilangkan variasi biologik antar subyek
(2 periode untuk pemberian 2 produk obat pada setiap subyek).
Pemberian produk pertama dg kedua dipisahkan oleh periode
washout yang cukup untuk eliminasi produk obat yang pertama
diberikan.
SUBYEK
Kriteria seleksi
- Sukarelawan sehat (untuk mengurangi variasi antar subyek)
- Sedapat mungkin pria dan wanita
- Umur : 18 – 55 tahun
- Berat badan : normal (IMT 18 -25)
- Sebaiknya bukan perokok
- Tidak mempunyai riwayat ketergantungan pada alkohol atau
penyalahgunaan obat
- Tidak kontraindikasi atau hipersensitif terhadap obat uji
- Untuk obat yang terlalu toksik untuk diberikan pada sukarelawan
sehat, maka digunakan penderita dengan indikasi yang sesuai
Jumlah
- Minimal 12 (pada umumnya 18 -24)
Kriteria seleksi
- Sukarelawan sehat (untuk mengurangi variasi antar subyek)
- Sedapat mungkin pria dan wanita
- Umur : 18 – 55 tahun
- Berat badan : normal (IMT 18 -25)
- Sebaiknya bukan perokok
- Tidak mempunyai riwayat ketergantungan pada alkohol atau
penyalahgunaan obat
- Tidak kontraindikasi atau hipersensitif terhadap obat uji
- Untuk obat yang terlalu toksik untuk diberikan pada sukarelawan
sehat, maka digunakan penderita dengan indikasi yang sesuai
Jumlah
- Minimal 12 (pada umumnya 18 -24)
Harus dibuat sesuai dengan CPOB
Idealnya, harus diambil dari batch skala produksi Jika tidak
mungkin, pilot batch dengan minimal 10 % batch skala produksi.
Dosis : satu unit bentuk sediaan dengan kekuatan yang
tertinggi. Jika perlu untuk alasan analitik, dapat digunakan beberapa
unit dengan kekuatan tertinggi, asal tidak melebihi dosis maksimal
regimen dosis.
Dianjurkan dilakukan uji disolusi in vitro produk uji dan pembanding
sebelum dilakukan uji BE. Hasilnya dilaporkan sebagai profil persen
obat yang terlarut terhadap waktu
PENGAMBILAN SAMPEL DARAH
Kebanyakan obat diperlukan 12 -18 sampel darah, yakni :
1 sampel sebelum obat : pada waktu nol (t0)
2 - 3 sampel sebelum kadar maksimal (Cmax) ;
4 – 6 sampel sekitar Cmax)
5 – 8 sampel setelah Cmax sd sedikitnya 3 x t1/2
AUC (luas area di bawah kurva terhadap waktu) : sedikitnya 80%
dari AUC yang diekstrapolasi ke tidak terhingga (~)

PENGAMBILAN SAMPEL URIN

Hanya digunakan bila kadar obat dalam darah terlalu kecil untuk dapat
dideteksi dan eliminasi obat dalam bentuk utuh cukup besar (> 40%)
Diambil secara periodik, volume urin setiap interval waktu harus diukur
dan dilaporkan
Dibuat kurva jumlah obat kumulatif yang diekskresi dalam urin
terhadap waktu

METODA BIOANALITIK
Harus mengikuti prinsip Good Laboratory Practice (GLP)
Harus divalidasi
Karakteristik metoda bioanalitik
- stabilitas analit dalam matriks biologi
- spesifitas
- akurasi
- presisi
- limit of quantifikasi
- reprodusibilitas
KRITERIA BIOEKIVALEN
Rasio nilai rata-rata geometrik (AUC) uji/ (AUC)pembanding = 1,00 dengan
90% Confidence Interval (CI) = 80 – 125 %.
Rasio nilai rata-rata geometrik (Cmax)uji / (Cmax)pembanding = 1,00 dengan
90% CI = 80 – 125 %.
Karena Cmax lebih bervariasi dibanding AUC, interval lebih lebar dapat
diterapkan. Harus diberikan alasan dg mempertimbangkan efikasi & keamanan
Perbandingan tmax dilakukan hanya jika ada klaim yang relevan secara klinik
mengenai pelepasan atau kerja yang cepat atau ada tanda-tanda yang
berhubungan dengan efek samping obat.

KRITERIA UJI BIOEKIVALENSI
Produk yang memerlukan uji ekivalensi in vivo
Produk yang cukup dilakukan uji ekivalensi in vitro (uji
disolusi terbanding)
3. Produk yang tidak memerlukan uji ekivalensi

PRODUK OBAT YANG MEMERLUKAN UJI EKIVALENSI IN VIVO

Produk obat oral lepas cepat, bekerja sistemik, jika memenuhi satu atau lebih kriteria berikut :
Obat untuk kondisi serius yang memerlukan respon terapi yang pasti
Batas keamanan/indeks terapi sempit; kurva dosis-respons curam
Terbukti ada masalah bioavailabilitas/bioinekivalensi dengan obat yang bersangkutan atau obat dengan struktur kimia atau formulasi yang mirip
Eksipien dan proses pembuatannya diketahui mempengaruhi bioekivalensi

PRODUK OBAT YANG MEMERLUKAN UJI EKIVALENSI IN VIVO
2. Produk obat non-oral dan non-parenteral yang didesain bekerja sistemik.
Misal : sediaan transdermal, supositoria, gel testosteron dan kontraseptif
bawah kulit.
3. Produk obat lepas lambat atau termodifikasi yang bekerja sistemik
4. Produk kombinasi tetap bekerja sistemik, yang paling sedikit salah satu
zat aktifnya memerlukan studi in vivo
5. Produk obat bukan larutan untuk penggunaan non-sistemik (oral, nasal,
okular, dermal, rektal, vaginal dsb) & dimaksudkan bekerja lokal.

PRODUK OBAT CUKUP DILAKUKAN UJI EKIVALENSI IN VITRO
(UJI DISOLUSI TERBANDING
)
Produk obat yang tidak memerlukan studi in vivo
2. Produk obat “copy” yang hanya berbeda kekuatan – uji disolusi
terbanding dapat diterima untuk kekuatan yang lebih rendah berdasarkan
perbandingan profil disolusi
3. ZA kelarutan dlm air tinggi, permeabilitas dalam usus tinggi, serta
- disolusi sangat cepat atau
- disolusi cepat dan profil disolusi mirip dg pembanding
4. ZA kelarutan dlm air tinggi, permeabilitas dalam usus rendah, serta
- disolusi sangat cepat dan;
- tidak mgdg zat inaktif yang diketahui mengubah motilitas dan/atau
permeabilitas saluran cerna
5. ZA permeabilitas dalam usus tinggi, kelarutan air rendah serta :
- disolusi cepat pada pH 6,8 dan
- profil disolusi mirip pembanding

PRODUK OBAT TIDAK MEMERLUKAN UJI EKIVALENSI
Produk obat “copy” :
penggunaan IV sbg larutan dlm air, kadar molar ZA sama dg produk
pembanding
2. penggunaan parenteral lain (mis : intramuskular, subkutan) sbg larutan
dlm air , kadar molar ZA sama dg pembanding, dan eksipien
sama/ mirip dg pembanding.
3. Larutan oral (sirup, eliksir, tingtur atau btk larutan lain tapi bukan
suspensi), kadar molar ZA sama dengan pembanding
4. Bubuk untuk dilarutkan dan larutannya memenuhi kriteria no 1, 2 atau 3.
5. Berupa gas
6. Sediaan obat mata atau telinga, sbg larutan dl air, kadar molar ZA,
eksipien sama dg pembanding
7. Sediaan topikal, sbg larutan dl air, kadar molar ZA sama dg pembanding
8. Larutan untuk aerosol atau produk inhalasi nebulizer (semprot hidung),
yang digunakan dengan atau tanpa alat yang praktis sama, sbg larutan
dl air.

KESIMPULAN

. Uji bioekivalen diperlukan untuk menjamin efikasi, keamanan
dan mutu produk obat “copy” yang beredar
2. Produk OGB Kimia Farma telah diuji sebanyak 29 produk,
menunjukkan bioekivalen dengan produk pembanding